Flobamora
Welcome, Guest
Please Login or Register.    Lost Password?
TERKUAKNYA 'PINTU TERLARANG' ITU! (1 viewing) (1) Guest
Go to bottom Favoured: 1
TOPIC: TERKUAKNYA 'PINTU TERLARANG' ITU!
#422
Dicky ()
User Offline Click here to see the profile of this user
TERKUAKNYA 'PINTU TERLARANG' ITU! 1 Year, 7 Months ago Karma: 1  
Saya sungguh tak sabar lagi untuk menonton film Pintu Terlarang, karya terbaru Joko Anwar. Dulu pertama kenal beliau di Janji Joni, dia begitu fresh menawarkan cara penyutradaraannya. Ini menurut saya. Dan saya sampai dibuat terkagum tak karu-karuan saat film Kala muncul, dia cerdas. Lagi ini menurut saya. Saya malah menonton Kala lebih dari tiga kali, sambil terus melihat detil demi detil film tersebut. Saya adalah tipe orang yang pelamun, dan saya bisa dengan mudah masuk ke dalam dunia entah berantah yang ada di Kala. Saya dengar Kala malah didaulat sebagai film terbaik dunia 2007 oleh salah satu majalah di Inggris sana. Saya lantas jadi miris dengan cara kita mengapresiasi sutradara-sutradara bermutu kita. Saya malah sedih ketika film yang bagus itu begitu cepat turun layar dan kalah dengan film-film horror dan komedi seks murahan! Ada apa dengan selera orang Indonesia?

Dan ketika menonton PT, saya cuma bisa bilang gila!!, keren, cerdas , enak dimata, memacu adrenalin!
Saya memulai dengan menyinggung Freud dan teori tabularasa. Dan pendapat ini 100% didukung oleh pesan dalam Pintu Terlarang (PT) ini. Saya percaya hidupmu di masa depan ditentukan oleh hidupmu di masa sekarang ini. Jika hidup saya sekarang diisi dengan coretan-coretan maka sudah bisa dipastikan bahwa masa depan saya tak akan jauh dari keburaman, ketidakaturan dan ketidakpastian itu (baca: corat-coret). Saya kasihan dengan tokoh Gambir (Fachri Albar) yang punya pengalaman masa lalu yang penuh traumatis, banyak coretan beraneka warna dan bentuk yang tidak indah. Ibunya begitu tergolong hysteria dan ringan tangan sebagai pelampiasan ketidaksukaannya kepada sosok ayah, dan si ayah seolah tak mau kalah dengan sang ibu juga ikut menyiksa. Hingga pada suatu waktu ia membunuh ayah dan ibunya sendiri lalu masuk penjara pada usia dini. Dari dalam penjara inilah dunia baru yang penuh kekerasan, tipu daya, diciptakan Gambir dalam benaknya. Dunia Gambir!
Efek dari penyiksaan itu ternyata sangat besar sekali: dunia penih intrik, buram, kacau, kepura-puraan, semuanya bercampur. Gambir yang punya masa lalu buram, selalu dianggap lemah, dikucilkan oleh orang tuanya sendiri kemudian seolah mengembangkan sisi pribadinya yang lain yang ingin sukses sebagai pematung, ingin dianggap, hanya saja itu sulit karena harus berhadapan dengan masa lalunya yang buram itu, yang hadir lewat tokoh-tokoh kejam yang selalu menganggap dia lemah, menyepelekan dia, Talyda istrinya (Marsha Timothy), Menik Sasongko (Henidar Amroe), Koh Jimi (Tio Pakusadewo), hingga sahabat-sahabat karibnya (Aryo Bayu) dan (Otto Djauhari ). Mereka berlima ini adalah harga termahal dari masa lalu Gambir yang hadir, yang membuat keruwetan isi kepalanya. Mereka tak lain adalah konsekuensi negative dari masa lalu Gambir, itulah mengapa ada saat dimana Gambir dilarang membuka ‘Pintu Terlarang’ atau masa lalu terkejam Gambir, supaya dengan tidak membuka pintu terlarang tersebut mereka-mereka bisa terus menyiksa batin Gambir. Karena tokoh-tokoh itu lahir dari traumatis Gambir, maka mereka terus berusaha untuk ‘memelihara’ rasa traumatis Gambir dengan cara demikian. Atau sikap Menik yang selalu bilang Gambir ‘impoten’ sebenarnya adalah sisi gelap dalam diri Gambir sendiri yang muncul karena kurang penerimaan dari orangtuanya sendiri. Film PT sejatinya menggambarkan bagaimana Gambir yang adalah korban KDRT berkutat dengan rasa traumatisnya.
Sangat ‘psikotik’ memang karena kita harus menyelami kehidupan Gambir yang baik dan buruk. Dunia yang penuh dengan kekerasan, sehingga untuk menolong dirinya sendiri tak mungkin. Ujung-ujungnya Gambir dipaksa untuk berkutat lebih jauh dengan tokoh-tokoh kejam yang hadir mengisi ‘isi kepalanya’. Gambir semakin jauh terlibat dengan isi pikirannya sendiri, dengan orang-orang sekitar yang kelakuannya tidak jauh berbeda dengan ayah dan ibunya sendiri, suka memukul, hysteria, psikotik sejati he-he.
Jujur saya sempat terkecoh dengan jalan cerita film ini. Mungkin karena saya ikut terbawa oleh ‘emosi’ film yang naik turun, dan saya lupa bahwa ternnyata tokoh anak kecil yang selalu meminta tolong, tokoh yang diwujudkan oleh isi kepala Gambir dewasa sendiri dengan ‘anak yang disiksa ayah-ibunya’ yang meminta bantuan didepan kamera jaringan rahasia yang menyukai kekerasan, menyelinap ke rumah-rumah orang dan merekam berbagai bentuk kekerasan yang ada. Ah, dunia ini memang kejam kawan. Saya pun bisa membandingkan logika berpikir di PT dengan logika di cerita film Belahan Jiwa yang kebetulan penulisnya tak lain adalah penulis cerita PT ini, Sekar Ayu Asmara.
Saya bisa membayangkan jika banyak anak-anak Indonesia atau di dunia khususnya di Palestina sekarang ini, yang hari-harinya ditulis/diwarnai dengan perang, kekerasan, kebencian, kemarahan, dll, apa yang akan terjadi denga jiwa mereka? sudah pasti akan ada banyak Gambir-Gammbir di dunia ini, mereka yang trauma, yang akan berkutan dengan masa lalu yang tidak menyenangkan sehingga jiwa mereka sendiri akan menciptakan ‘kenyamanan’ dengan menghadirkan diri mereka dalam bentuk yang lain, ‘diri psikis’ yang bisa jadi hanya sebagai ‘pelarian’ dari hal-hal yang tidak menyenangkan. Atau malah mereka akan terperangkap sendiri dalam ‘jiwa’ mereka, dengan saling berperang dengan tokoh-tokoh yang mereka mainkan sendiri. Sama seperti Gambir yang ‘memainkan’ sendiri perannya membunuh para tokoh-tokoh ‘traumatis’ tadi. Tokoh-tokoh yang ada di dalam pikirannya, tokoh-tokoh yang selalu menganggapnya lemah.
Setelah menonton film ini, saya jadi berpikir, ternyata tidak hanya kehidupan nyata saja yang kompleks, kehidupan rasional saja yang kompleks, hal-hal yang dibawah sadar, yang irrasional pun bisa begitu kompleksnya.
Secara keseluruhan film ini bagus, cerdas, informatif. Saya puas disuguhi gambar-gambar indah, tata artistic yang keren (Wencislaus memang hebat), tata sinematografi,dll. Dulu saya sangat puas dengan Kala kini saya malah makin puas dan berharap yang lebih baik lagi dari Joko,dkk.
Menonton PT adalah menonton dunia ‘orang gila’ yang menciptakan situasi-situasi ‘gilai, denia dan situasi seseorang yang mempunyai pengalaman buruk dari orang terdekatnya dimasa lalu, dunia yang kompleks dengan kekerasan, tipu daya, permusuhan, pembunuhan, kekacauan,dsb. So, patut ditonton. Ini film thriller yang cerdas, saya malah ingat juga dengan film Panic Roomnya Jodie Foster.
Saya pun harus bilang bahwa manfaatkanlah atau isilah hidup anda juga saya dan bantulah mengisinya juga kepada orang-orang terdekat anda dengan hal-hal positif, yang baik, penuh cinta dan damai, jika kita ingin masa depan kita, masa depan banyak orang, masa depan dunia kita baik. Namun jika melihat perang, kekacauan, kemarahan, permusuhan,dll yang dialami anak-anak di dunia saat ini, maka saya pesimis dengan masa depan mereka yang cerah, yang sehat. Dan keselamatan dunia taruhannya.
 
Logged Logged  
  The administrator has disabled public write access.
Go to top

Supported By

Advertisement

Member Flobamora

 mohamad choiry rodja
 Viktor Lengo
 aul resan
 Christian Lalang
 Lin Gadi
 esterina silvanery