Hmmmm (1 viewing) (1) Guest
Favoured: 0
|
|
|
TOPIC: Hmmmm
|
|
|
|
Hmmmm 9 Months, 3 Weeks ago
|
Karma: 2
|
Hmmmm.... baru tau ternyata anak FC; Christian Dicky Senda udah lama masuk Kompas yaaa atas karya2 puisinya!
Puisi-puisi Christian Dicky Senda
TPGIMAGES
Sabtu, 17 Januari 2009 | 02:02 WIB
Kelimutu
kemarin
aku sampai ke dunia sunyi (dunia edelweiss, dunia cemara kaku)
terbungkus oleh alam mistik. kemanakah cakrawala itu?
mengapa aku biru? masih berjalan dalam belantara keteduhan.
berlarian dengan jiwa-jiwa hingga sampai pada pucuk
suarga (sudah kucium jejak mereka,
nenek moyang batu-kayu-air-tanah-sirih-
pinang-darah-ayam!jampijam
pi dan doa)
dimanakah ujung dunia ini? mengapa yang kulihat
selalu berwarna, berubaha warna?
kucari sang terang, aku merah bata. kususuri anak-anak
tangga, aku hijau.
sampailah aku pada sebuah halaman istana awanawan
putih disisinya yang lain. aku sendiri, aku jadi putih jua.
sungguh ini realitas yang sekejap mata bisa menjadi
hiperrealitas, aku hitam.
ku hirup nafasNya dalam
(sangat dingin seperti merah jadi putih jadi biru
jadi hitam jadi hijau jadi terang jadi sunyi jadi magis,
magis yang mistis yang arif
dari batu dari kayu dari air dari tanah dari sirih
dari pinang dari darah dari ayam! jampijampi jadi doa),
aku kelimutu. aku sunyi. aku berwarna
Dia tersenyum samar, aku berwarna.
penuh warna, lantas meleleh, jatuh berwarna.
aku kelimutu, yang berwarna dalam sunyi.
2008
_______________
Rindu
: buat theresia avilla
Hatiku terjebak sudah
dalam kobaran rindu yang putih
terbingkai manis di sudut bibirmu:
aku membunuh perasaanku disisi
purnama yang mengkerut. Lalumenitipkannya
paksa
pada lembar awan abu-abu. Percayalah
Aku mencintaimu sesederhana membungkus tubuh
dengan selimut. Menjaganya dari sapuan
angin selatan. Itu tabu untuk daramu
Aku rindu saat-saat laraku
kau hisap dengan kesederhanaanmu :
waktu itu kabut menyembunyikan seluruh
bongkahan atap gereja. Enam tahun lalu.
tapi masih kuraba jejak matamu
yang menusuk hatiku
mematrikan bulir-bulir rindu
yang berlarut-larut. Kau dimana?
2008
_________________
Darah Di Bukit Kapur
:buat Mollo yang galau
Ambil
darahku demi pengetahuan, demi hidup
bukan rakusmu
Bunuh.
Bunuhlah jiwaku jika kau mampu, demi mata air yang
Bertuah.
Berdarah dari seribu dewa tanah. Sudah kau perkosa itu.
Tangkap
tubuhku lalu ikat dengan tali malammalam.
Penjarakan
citraku demi perut laparmu. Lakukan dengan tambunmu
Sampai. Kulit
bukitbukit meleleh. Tulang dewa kini jadi lantai
mewah
kaum berduit
Jangan
bilang ada nurani ditudung hati mereka!
Hei, semua orang
tersumpal mulutnya
Dengan
uang. Mereka menggadai tubuh dewadewanya demi perut
saja,
mungkin Dengan sedikit otak tanpa nurani. Mereka meracau dasyat
atas
nama hidup, apa itu hidup? Hidup adalah darah, membentuk
selsel
ketamakan
Oh,
demi tuhan, demi mahadewa yang adil, hisap darahku tapi
jangan
tinggalkan nanah, darah otak perutmu. Hei, dimana letak otakmu?
Tusuk
jantungku sampai kaus berkeringat kejang
Demi
bumi, jangan kira aku kalah (yakinlah itu menang rakus)
Demi
tuhanku, dewa bumi ruhku melawan ruhmu, dengan tuhanmu.
Siapa
tuhamnu?
Aku
tak gentar melingkari seribu malam dengan berdarahdarah, sudah
kubilang
Darahku
demi pengetahuan, pengetahuan letaknya bukan di perut. Sama sekali.
‘Aku membaca
ruh saudaraku terpasung pada sebuah pagi yang prematur
Tiba saatnya ruh
perempuan itu bergejolak: …dengan payudara kami
Mau tanah dewa
dikembalikan. Dengan payudara kami mau mengambil
Air susu bumi
yang dicuri’
Aku
mendapat kabar dari matahari, mereka mencuri kemanusiaan perempuan
itu.
Hanya
karena mereka bukan manusia lagi. Lantas mereka apa?
Mereka
memasungnya dalam semak duri, tanpa malam yang hangat.
Demi
jidat dibawah dadamu, kau kirim kawanan topeng menyebar lolongan
Kematian
bagi perempuan itu. Mereka bukan manusia.
Aku
yakin kata perempuan itu,
manusia sekarang
gemar memakai perut
Ketimbang
dada dan isi kepala. Tanah tercipta oleh darah, dan untuk tanah
Darah
harus tertumpah. Bukit harus terpercik darah.
Hutan
bermandikan darah
Air
yang berlumuran darah. Demi hidup yang terampas,
Yah,
demi musuh. Kau. Harus ada darah.
Tahu-darah:
Tahu
hidup dari darah
Gnosis
sanguinis.
Sedangkan
kau. Mereka. Tidak! Kau tak tahu-darah. Kau punya
darah
dari perut: nafsu belaka. Yang mencemari
pengetahuan
dan budi
lewat
gigitan beludak, tanpa isi kepala. Memalukan.
Aku
menangis karena tuhanmu tak mencintai bumi
Mengapa kau membunuh
dewa tanahku?
Mengapa kau mencuri
tubuh mezbahku?
Mengapa kau larang
aku menyembah batu
Sedangkan
kau membunuh bumi?
Bunuh
aku demi tuhanmu jika kau mampu: jagad akan bersorak
Luluh
lantak berkobar, kemudian selesai.
Chaos!
tuhanmu tak mampu menjaga bumi
Sungguh,
saudara!
Jika kau tak puas
dengan aku, jemput aku.
Tapi jangan
gelap. Aku bukan binatang
Aku manusia. Oya,
jangan lupa isi otakmu dahulu dengan kekritisan
----------
Christian Dicky Senda, lahir di Mollo Utara - Timor, 22 tahun yang lalu, kini menjadi mahasiswa psikologi di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, menggemari dunia sastra sejak duduk di bangku SMA Syuradikara Ende. Puisi-puisi saya juga sudah pernah dipublikasikan di harian Pos Kupang.
Linknya ada di sini :
www.kompas.com/read/xml/2009/01/17/02021...hristian.dicky.senda
|
|
|
|
Logged
|
|
|
|
|
|
The administrator has disabled public write access.
|
|
|
|
|
Supported By
|