Flobamora
Welcome, Guest
Please Login or Register.    Lost Password?
Hmmmm (1 viewing) (1) Guest
Go to bottom Favoured: 0
TOPIC: Hmmmm
#762
tuteh ()
User Offline Click here to see the profile of this user
Gender: Female tuteh.pharmantara@gmail.com tooty408 Location: Ende
Hmmmm 9 Months, 3 Weeks ago Karma: 2  
Hmmmm.... baru tau ternyata anak FC; Christian Dicky Senda udah lama masuk Kompas yaaa atas karya2 puisinya!


Puisi-puisi Christian Dicky Senda
TPGIMAGES

Sabtu, 17 Januari 2009 | 02:02 WIB

Kelimutu

kemarin
aku sampai ke dunia sunyi (dunia edelweiss, dunia cemara kaku)
terbungkus oleh alam mistik. kemanakah cakrawala itu?
mengapa aku biru? masih berjalan dalam belantara keteduhan.
berlarian dengan jiwa-jiwa hingga sampai pada pucuk
suarga (sudah kucium jejak mereka,
nenek moyang batu-kayu-air-tanah-sirih-
pinang-darah-ayam!jampijam
pi dan doa)
dimanakah ujung dunia ini? mengapa yang kulihat
selalu berwarna, berubaha warna?
kucari sang terang, aku merah bata. kususuri anak-anak
tangga, aku hijau.
sampailah aku pada sebuah halaman istana awanawan
putih disisinya yang lain. aku sendiri, aku jadi putih jua.
sungguh ini realitas yang sekejap mata bisa menjadi
hiperrealitas, aku hitam.
ku hirup nafasNya dalam
(sangat dingin seperti merah jadi putih jadi biru
jadi hitam jadi hijau jadi terang jadi sunyi jadi magis,
magis yang mistis yang arif
dari batu dari kayu dari air dari tanah dari sirih
dari pinang dari darah dari ayam! jampijampi jadi doa),
aku kelimutu. aku sunyi. aku berwarna
Dia tersenyum samar, aku berwarna.
penuh warna, lantas meleleh, jatuh berwarna.
aku kelimutu, yang berwarna dalam sunyi.

2008
_______________

Rindu
: buat theresia avilla

Hatiku terjebak sudah
dalam kobaran rindu yang putih
terbingkai manis di sudut bibirmu:
aku membunuh perasaanku disisi
purnama yang mengkerut. Lalumenitipkannya
paksa
pada lembar awan abu-abu. Percayalah
Aku mencintaimu sesederhana membungkus tubuh
dengan selimut. Menjaganya dari sapuan
angin selatan. Itu tabu untuk daramu
Aku rindu saat-saat laraku
kau hisap dengan kesederhanaanmu :
waktu itu kabut menyembunyikan seluruh
bongkahan atap gereja. Enam tahun lalu.
tapi masih kuraba jejak matamu
yang menusuk hatiku
mematrikan bulir-bulir rindu
yang berlarut-larut. Kau dimana?

2008
_________________

Darah Di Bukit Kapur

:buat Mollo yang galau

Ambil
darahku demi pengetahuan, demi hidup

bukan rakusmu

Bunuh.
Bunuhlah jiwaku jika kau mampu, demi mata air yang

Bertuah.
Berdarah dari seribu dewa tanah. Sudah kau perkosa itu.

Tangkap
tubuhku lalu ikat dengan tali malammalam.

Penjarakan
citraku demi perut laparmu. Lakukan dengan tambunmu

Sampai. Kulit
bukitbukit meleleh. Tulang dewa kini jadi lantai

mewah
kaum berduit

Jangan
bilang ada nurani ditudung hati mereka!

Hei, semua orang
tersumpal mulutnya

Dengan
uang. Mereka menggadai tubuh dewadewanya demi perut

saja,
mungkin Dengan sedikit otak tanpa nurani. Mereka meracau dasyat

atas
nama hidup, apa itu hidup? Hidup adalah darah, membentuk

selsel
ketamakan

Oh,
demi tuhan, demi mahadewa yang adil, hisap darahku tapi

jangan
tinggalkan nanah, darah otak perutmu. Hei, dimana letak otakmu?

Tusuk
jantungku sampai kaus berkeringat kejang

Demi
bumi, jangan kira aku kalah (yakinlah itu menang rakus)

Demi
tuhanku, dewa bumi ruhku melawan ruhmu, dengan tuhanmu.

Siapa
tuhamnu?

Aku
tak gentar melingkari seribu malam dengan berdarahdarah, sudah
kubilang

Darahku
demi pengetahuan, pengetahuan letaknya bukan di perut. Sama sekali.

‘Aku membaca
ruh saudaraku terpasung pada sebuah pagi yang prematur

Tiba saatnya ruh
perempuan itu bergejolak: …dengan payudara kami

Mau tanah dewa
dikembalikan. Dengan payudara kami mau mengambil

Air susu bumi
yang dicuri’

Aku
mendapat kabar dari matahari, mereka mencuri kemanusiaan perempuan
itu.

Hanya
karena mereka bukan manusia lagi. Lantas mereka apa?

Mereka
memasungnya dalam semak duri, tanpa malam yang hangat.

Demi
jidat dibawah dadamu, kau kirim kawanan topeng menyebar lolongan

Kematian
bagi perempuan itu. Mereka bukan manusia.

Aku
yakin kata perempuan itu,

manusia sekarang
gemar memakai perut

Ketimbang
dada dan isi kepala. Tanah tercipta oleh darah, dan untuk tanah

Darah
harus tertumpah. Bukit harus terpercik darah.

Hutan
bermandikan darah

Air
yang berlumuran darah. Demi hidup yang terampas,

Yah,
demi musuh. Kau. Harus ada darah.

Tahu-darah:

Tahu
hidup dari darah

Gnosis
sanguinis.

Sedangkan
kau. Mereka. Tidak! Kau tak tahu-darah. Kau punya

darah
dari perut: nafsu belaka. Yang mencemari

pengetahuan
dan budi

lewat
gigitan beludak, tanpa isi kepala. Memalukan.

Aku
menangis karena tuhanmu tak mencintai bumi

Mengapa kau membunuh
dewa tanahku?

Mengapa kau mencuri
tubuh mezbahku?

Mengapa kau larang
aku menyembah batu

Sedangkan
kau membunuh bumi?

Bunuh
aku demi tuhanmu jika kau mampu: jagad akan bersorak

Luluh
lantak berkobar, kemudian selesai.

Chaos!
tuhanmu tak mampu menjaga bumi

Sungguh,
saudara!

Jika kau tak puas
dengan aku, jemput aku.

Tapi jangan
gelap. Aku bukan binatang

Aku manusia. Oya,
jangan lupa isi otakmu dahulu dengan kekritisan

----------
Christian Dicky Senda, lahir di Mollo Utara - Timor, 22 tahun yang lalu, kini menjadi mahasiswa psikologi di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, menggemari dunia sastra sejak duduk di bangku SMA Syuradikara Ende. Puisi-puisi saya juga sudah pernah dipublikasikan di harian Pos Kupang.


Linknya ada di sini :
www.kompas.com/read/xml/2009/01/17/02021...hristian.dicky.senda
 
Logged Logged  
 
  The administrator has disabled public write access.
Go to top

Supported By

Advertisement

Member Flobamora

 dedu efendi
 Arlyana Legracias
 Budi santosa
 Alan Badhe
 febri wara
 anita day